Sunday, January 3, 2010

Firts Story : Murder

Malam di mana sebagian besar manusia tertidur dengan lelap, adalah malam di mana salah satu- atau beberapa dari mereka tertidur dalam tidur abadi.

Terkadang suara jeritan melengking penuh ketakutan dan luapan rasa sakit adalah suara latar yang membawa sang pemiliknya dalam tidur abadi.

Darah yang berceceran maupun bagian tubuh yang berserakan adalah pemandangan terakhir sebagai penutup.

- - - - - -

"...--hhah... hah..." suara nafas tak beraturan dengan derap langkah yang berlari menyeruak dalam derasan siraman hujan di malam yang dingin.

Cipratan dari genangan air memberi warna kecoklatan pada rok hitam maupun sepatu boot, disertai dengan cairan merah yang lebih kental dari siraman air hujan.

Cairan merah yang terus mengalir dari sebuah luka yang menganga di bahu kiri.
Derap langkah semakin bergema nyaring pada lorong-lorong sempit. Hingga akhirnya derap langkah itu terhenti, tepat di hadapan sebuah kawat besi yang menjulan tinggi. Sulit untuk meloncat melaluinya, adanya pijakan pun tidak.

"Me-- menyebalkan," desis gadis berambut hitam itu.

Pandangannya terus berputar, berharap menemukan jalan keluar. Hingga akhirnya harapan itu harus terhapus, terhapus oleh suara antara besi dan jalan yang bergesekan.

"Hehe. Kelihatannya kau sudah selesai bermain-main, kita selesaikan saja ya," seru sang pencipta suara gesekan.

Rona akan ketakutan mulai terlihat di wajah sang korban, bercampur dengan rasa sakit yang tertahan.

"Kenapa!? Kenapa ingin membunuhku!?" pekiknya dengan seluruh keberanian yang hanya sedikit.

Pria berambut merah darah di hadapannya hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya. Membuat sebuah senyum sinis, "pekerjaan. Salah satu rekanmu memintaku untuk membunuhmu, Ruise."

Besi berupa sebilah pedang samurai hitam yang baru saja bergesekan dengan tanah terangkat.
"Ja... jangan," pinta Ruise terbata dengan nada dipenuhi ketakutan. Rasa nyeri maupun sakit tidak diperdulikannya.

"Sayounara..."

"KYAAA!!!"

- - - - -

Sirine mobil polisi terus terdengar memenuhi pagi yang basah oleh siraman air hujan beberapa jam yang lalu.

Tarikan garis kapur terlihat di dalam garis polisi yang dibuat.

Dalam tarikan garis kapur terdapat beberapa organ maupun bagian tubuh yang berceceran.
Bau amis yang bercampur lembab menyeruak ke dalam indra penciuman mereka yang berada di lokasi sekitar.

"Jadi bagaimana?" pekik salah satu pria yang mengenakan seragam polisi, di dadanya tersemat papan kecil yang bertuliskan namanya, 'Kyushi'.

Langkah kakinya perlahan menjauh dari mobil berwarna hitam dan putih yang baru saja dinaikinnya.

"Ah! Kyu-chan!" sapa rekan wanitannya. Di tangan kanan perempuan itu terdapat beberapa carik kertas.

"Ver... tolong jangan panggil Kyu-chan," pinta Kyushi. Perempuan bernama Vera itu hanya menaikkan kedua sudut bibirnya dan membuat kekehan kecil dari sela bibirnya yang memerah.

"Kalo gitu Kyu-tang ya?"

"Jangan ngawur!"

"Aduh, Kyu-tang jangan ngambek dunk."

"VERA!"

"Hya! Juki-kun!" Vera berlari kecil untuk bersembunyi di balik polisi wanita lain dengan wajah... kosong.

"Vera, Kyu, kalau bekerja yang serius," pekik Azuki dengan pelafalan maupun intonasi yang sulit dimengerti. Entah marah atau apa, tak ada yang mengerti.

"Salahkan Vera!" tuduh Kyushi kesal.

"Ukh... Kyu-tang jahat... iks... iks..." alis yang menekuk ke bawah. Mata berkaca-kaca dengan beberapa titik cairan bening. Tangisan buanya yang sulit dibedakan dengan tangisan sesungguhnya.

"Ekh! Ekh! Please jangan nangis!" pinta Kyushi panik. Tak tahu harus melakukan apa.
"Kyu, terbiasalah dengan akting kawakan Vera," sahut Azuki dingin dan sukses membuat empat garis siku-siku muncul di dahi Kyushi dan tawa ragu dari Vera.

Satu...

Dua...

Tiga...

"Sini kamu!" marah Kyushi yang langsung menembakkan pistolnya ke segala arah. Permainan kejar-kejaranpun dimulai.

Sementara Azuki sibuk memandangi sekitarnya, tempat di mana ceceran darah dan organ tubuh berserakan. Mencari organ yang hilang, jantung.

'Apakah ini... mungkin saja... Kura-kura satu itu.'

- - - - - -

"Tadaima..." pekik sebuah suara lembut disusul terbukannya pintu kayu berwarna hitam legam.
Seorang perempuan yang terlihat berusia dua puluh-an muncul dari balik pintu. Rambut hitam bergelombangnya dikuncir ke atas.

"..." hening, tak ada jawaban apapun yang terdengar. Hanya suara pintu tertutup.

"Kurainza..." bisiknya pelan.


Diletakkanya tas berisi berbagai macam pekerjaan di atas meja. Satu demi satu semua benda yang ada mulai keluar sebelum akhirnya tersimpan rapi di beberapa bagian dapur.

"...--kanari... restriction--..." sebuah senandung kecil mulai terdengar memenuhi rumah yang terbilang terlalu besar untuk ditinggali oleh bahkan sepuluh orang sekalipun.

Jemari-jemari mungilnya mulai bermain dan menari pada sayuran yang dipotong menggunakan pisau yang cukup-- mungkin terlalu tajam.

"Leme..." sapa sebuah suara berat dari belakang. Dua tangan kekar mulai melingkar pada sekitar leher gadis yang bernama Lemerie itu.

"Akh! Okaeri Ku-- GYAAAA!" kalimat itu berganti menjadi teriakkan melengking penuh keterkejutan.

"Hehe, bagaimana? Cantik kan?" seru pria yang baru saja memeluk Lemerie dari belakang, Kurainza.

Tapi naas, wanita dalam pelukannya sudah berpindah dunia akibat serangan jantung. Bukan dalam artian penyakit, melainkan penampakkan akan jantung yang terendam dalam sebuah cairan.

"Hehe, indahnya... benda terindah di dunia ini," seru Kurainza tanpa memperdulikan wanita yang sudah kehilangan seluruh darah yang mengalir ke kepalanya dan mata tanpa iris, alis putih.

- - - - - - -

"JANGAN BERCANDA!" bentak Lemerie setelah tersadar dari pingsannya sekitar tiga jam yang lalu.

"Maksudmu?" pekik Kurainza. Iris berwarna coklat tuanya tertuju lurus pada organ jantung yang baru saja didapatnya itu. Helaian rambut berwarna merah darahnya seolah menyatu dengan percikan darah yang masi menempel. Tentunya pakaian yang dikenakannya tidak jauh berbeda, lumpur dan darah yang hampir mengering.

"Kura... kumohon berhenti dari jalan berdarah ini, soal uang kita sudah punya cukup banyak. Kumohon, polisi sudah mencarimu dan menyiapkan hadiah bagi siapa saja yang menangkapmu, hidup atau... mati," pinta Lemerie dengan nada lirih pada kata terakhir.

Sudah lebih dari dua tahun ia tinggal dengan pria yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran yang kini ada di seberang meja makan. Pandangan penuh akan kekhawatiran terlihat jelas pada iris berwarna aqua-marine mililnya.

Kurainza hanya terdiam mendengar permintaan kekasihnya tersebut. Wanita yang menerimanya walaupun ia adalah seorang pembunug bayaran, Shinigami pengganti, Kura-kura ninja--- salah! Maksudnya Kurainza Katoshi.

"Leme, sudah puluhan kali kukatakan. Aku tak kan berhenti sampai menemukan jantung yang cocok untukmu," Lemerie terdiam. Berusaha mencerna makna dari penuturan barusan, sama sekali tak mengerti.

"Maksudmu?"


Coklat tua bertemu dengan aqua-marine. Coklat tua yang diisi keseriusan dan aqua-marine yang diisi kebingungan.

"Maksudku adalah..." menggantung. Kurainza menghentikan kalimatnya dan semakin menaikkan kedua sudut bibirnya. Membuat seulas tarikkan senyum... menawan.

'Keajaiban,' pikir Lemerie begitu melihat senyum tersebut. Mengingat semenjak dia mengenal pria itu yang dilihatnya hanyalah senyuman psycho.

"Tentu saja untuk menjadikan jantung terindah itu sebagai cincin pernikahan, kau kedua bilik dan aku kedua serambi," seru Kurainza penuh keseriusan yang dibalas dengan lemparan sendok dan garpu oleh Lemerie.

"Mana ada yang menikah dengan cincin seperti itu!"

"Ada kok, kakakku Selain dan Reika pakai."

"ITUKAN KARENA KAU MENUKAR CINCIN MEREKA, BODOH!"

- - - - - -

"Jantung, jantung, jantung... memangnya ada orang bodoh yang mengoleksi jantung ya?" pekik Vera kesal melihat berkas-berkas kasus pembunuhan berantai dalam kurun waktu sepuluh tahun ini.

Sementara Kyushi tengah sibuk menari dan menyanyi menyaksikan konser idola favoritnya.

"Misa-chan imuuuttt! Apalagi Pure-chan, nggak tahan deh," kalimat yang membuat orang yang mendengarnya penasaran. Apa benar polisi satu ini adalah kepala polisi daerah Dark Dome.
Azuki yang duduk di samping Kyushi -yang mulai meloncat-loncat layaknya anak kecil saat melihat kedua bintang tersebut menyanyikan lagu dari balik layar berwarna- hanya bisa memasang wajah tidak kenal. Tapi apa gunanya? Toh hanya ada mereka bertiga di ruangan tersebut, mengingat hanya orang nganggur yang mau berkeliaran tengah malam begini di kantor polisi. Pengecualian untuk para tahanan sementara yang menunggu kepindahannya.

"Kyu-tang, Juki-kun, bantuin," rengek Vera menyadari kedua atasannya itu sibuk dengan urusan masing-masing.

Azuki melirik ke arah Vera sebentar sebelum akhirnya mendengus pelan. Diambilnya remote tv dan tanpa ragu mematikan kotak tersebut, yang dengan bagus membuat bulir-bulir cairan bening menetes dari mata satu-satunya laki-laki di ruangan itu.

"Juki... kenapa dimatikan!? Padahal setelah ini ada siaran langsung tips-tips kecantikan yang dipandu langsung oleh MiPu!" rengek Kyushi yang membuat kedu rekan kerja wanitanya sweatdrop.

'Kamu cewek atau cowok?'

- - - - -

"Bila ditarik kesimpulan semua pelaku kasus pembunuhan ini orang yang sama. Tapi siapa?" jelas Vera begitu 'insiden' yang baru saja terjadi selesai.

"Apa mungkin... ini baru perkiraan... tapi kurasa aku tahu siapa..."

"Juki-kun... siapa?"


"Buronan yang kepalanya dihargai satu perak."

Hening... Kyushi dan Vera hanya bisa saling pandang. Tak mengerti dengan penuturan Azuki yang terbilang cukup... aneh.

"Maksudku satu perak dikali satu milyar," lanjut Azuki dengan wajah stoic. Walaupun kalimatnya tadi adalah lelucon, tapi kalau melihat ekspresi sang penutur bagaimana bisa mengerti?

"Maksudmu... Kura-kura ninja itu!?" celetuk Vera semangat.

"Kurapan kali," balas Kyushi.

"Kura-kura ninja kurapan aja sekalian. Kurainza Katoshi!"

"Euh, gomen. Lalu cara agar yakin?" tanya Vera dan Kyushi bersamaan.

"Aku punya ide... hehe," pertama kalinya Azuki menampakkan emosi dipercaya merupakan akhir dari dunia. Tentunya hanya ada dua orang yang percaya akan hal itu. Mereka adalah dua orang yang kini tengah melihat Azuki yang terkenal stoic menunjukkan sebuah senyuman.

"DUNIA KIAMAAAT!!!"

- few day later -

"...--jadi aku ingin kau membunuh Katsu, kau bisa?" pekik seorang gadis berparas manis yang sering muncul dalam drama-drama tv. Selembar foto diserahkannya pada Kurainza yang sibuk mengelap selaras pedang berwarna hitam miliknya.

"Kau yakin? Menurut kabar berita nantinya dia yang akan menjadi tunangan kakakmu, Miss," pekik Kurainza tanpa menyempatkan diri untuk melirik ke arah Miss.

Gadis berambut panjang itu menaikkan kedua sudut bibirnya, membuat ulasan senyum sinis.
"Hmph! Enak saja! Aku tidak rela dia mendapatkan kak Ficel," pekiknya sinis.

Kurainza menaikkan alis kanan dan sudut bibir kanannya, "nona, yang picik ternyata bukan hanya peranmu dalam drama. Tapi juga dalam kenyataan."

"Kau bisa saja, jadi, kapan dilaksanakan?"

"Malam nanti, dan jantung gadis itu adalah milikku."

"Hum... kutunggu berita di surat kabar besok pagi."

"Chers?"

"Chers."

- Lemerie POV -

Dentingan antara dua gelas yang saling beradu merupakan awal dari diterimanya suatu permintaan akan pembunuhan.

Aku hanya bisa diam, memandangi wajah berbinar Kura yang ajan mendapatkan koleksi jantung baru. Aku tak mengerti mengapa ia begitu menyukai mengumpulkan jantung-jantung itu.

Dadaku terasa amat sesak kala pria itu akan pergi dan melakukan hobinya yang cukup mengerikan. Harapanku hanyalah ia keluar dari dekapan cairan merah pekat, dunia yang bergelimang uang dari nyawa orang lain.

Aku tahu, yang diinginkannya hanyalah jantung. Hanya itu.


- End of Lemerie POV-

Malam telah larut, bulan purnama muncul dengan indahnya di langit berbintang. Terang lampu jalan menyinari jalalanan yang sepi, para serangga malam memulai ritual mereka. Menari di sekitar bohlam yang menyala dalam gelap.

Semuanya tertidur, menemui sang penguasa mimpi yang tengah menyanyikan lullaby miliknya. Mengajak bermain hingga sang surya muncul dan menghentikan permainannya.

Bunyi kayu berderit samar terdengar dari jendela kamar yang terbilang cukup mewah dan sangat feminime.

Seorang gadis berambut perpaduan antara putih dan hitam tengah terlelap di atas sebuah tempat tidur yang luas. Dengkuran halus bagaikan melodi pengisi malam darinya.

Jendela kaca terbuka, membuat semilir angin malam bertiup ke seluruh penjuru ruangan, membuat tirai berwarna keperakan yang ditimpa sinar rembulan menari mengikuti ritme alam.
Sesosok pria berambut merah melangkah memasuki ruangan tersebut, bilang pedang hitamnya membuat garis bagaikan jejak langkahnya di atas lantai kayu.

"...--ngh... sudah kenyang..." ceracau sebuah suara tidak jelas yang diyakini berasal dari gadis yang tengah tertidur, Katsu.

Kurainza menghela nafas pelan dan menaikkan salah satu sudut bibirnya, "maaf nona manis. Tapi aku sedang tak ingin bermain."

Pedang terangkat, memantulkan sedikit cahaya yang masuk dari jendela yang terbuka, melesan turun namun harus tergeletak di lantai begitu suara mendesing menyeruak dalam keheningan malam.

"Jangan bergerak!" bentak Katsu... atau bisa dirubah nama menjadi Vera yang mengenakkan wig dan baju tidur terusan.

Sebuah pistol tertuju lurus tepat di dahi Kurainza yang tengah memegangi tangannya yang tengah meneteskan cairan kental berwarna merah pekat.

"Tch! Jebakan rupanya," keluh Kurainza yang dibalas dengan suara borgol dari arah bawah.
Ditundukannya kepalanya, mendapati Kyushi yang sibuk memakaikan borgol lebih dari satu pada kaki sang pelaku. "Dia temanmu?"

"Bukan, hanya anak TK," sanggah Vera cepat sebelum mengenakan borgol pada pergelangan tangan Kurainza dan langsung menyeretnya keluar, meninggalkan Kyushi yang entah bagaimana ceritanya memborgol tangannya sendiri pada kaki tempat tidur.

Keesokan harinya kabar akan tertangkapnya Kurainza sang Kura-kura ninja kurapan mulai menyebar dengan cepat.

- - - - -

"Azuki, idemu terkadang aneh juga," pekik seorang pria sembari menyesap secangkir kopi miliknya.

Pemandangan hijau pegunungan menjadi latar belakang, sebuah terlfon genggam menempel pada telingannya.


"Ya,ya, emang lo ndiri kagak?" seru suara dari seberang sambunga. Pria itu hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya.

"Maksudmu?" tanyanya sengaja bagaikan seorang anak polos yang tak tahu apapun, walaupun seulas senyum sinis terlihat di wajahnya.

"Kau pikir aku tidak tahu? Kau kan... yang menyewa Kurainza pada pembunuhan terakhirnya, Kuphien."

"Hump! Sulit juga ya pura-pura baik di hadapan polisi merambat sebagai detektif. Kalau memang aku yang menyewa orang itu untuk membunuh Rui kenapa? Kau tidak punya bukti untuk membunuhku kan?" suara gigi yang saling bergesekan terdengar sangat jelas dari seberang sana sebelum sambungan terputus secara sepihak oleh Kuphien.

"Sayounara," pekiknya sebelum melemparkan telfon genggam itu menuju jurang tepat di bawahnya. Hancur bersama deru ombak.

O.W.A.R.I

A/N :
Aneh?
Katakan saja. Aku buatnya agak buru-buru, pengennya sih buat Suspense/Crime, tapi entah kenapa malah jadi kayak gini.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk yang tidak ada dan cuma nama lewat, nanti di cerita lain Rui coba buat kalian muncul.
Dan yang untuk dapet peran aneh... hhe, peace... aku nggak punya maksud apa-apa kok. peace ya?
Cerita ini hanya fiktif. kesamaan nama dan karakter... emang sengaja kan? Kura-kura ninja juga hobinya dia jadi pembantai (dikejar)... huhu, ceritanya nggak bener kok, buktinya gw masih idup sampai sekarang.